Bersenandung Cinta Bersimpuh Asmara Robaniy, Hakikat Mahabbah Ilahiyah
Hakikat Mahabbah: Puncak Perjalanan Jiwa

Risalah Sufi, Cinta adalah rahasia terdalam yang ditanamkan Allah SWT ke dalam jiwa manusia. Namun tidak semua cinta memiliki derajat yang sama. Ada cinta yang membuat manusia sibuk mengejar dunia, ada pula cinta yang mengangkatnya meninggalkan keterikatan dunia menuju Sang Pemilik kehidupan. Bagi para sufi, cinta yang terakhir inilah yang menjadi puncak perjalanan jiwa, yaitu mahabbah, cinta yang tulus kepada Allah SWT.
Rabi’ah al-Adawiyah adalah salah satu sosok yang namanya hampir selalu disebut ketika berbicara tentang cinta Ilahi. Baginya, hidup bukan tentang mengejar surga karena kenikmatannya atau beribadah semata karena takut neraka, tetapi tentang menemukan cinta kepada Allah yang begitu dalam hingga seluruh orientasi kehidupan tertuju kepada-Nya. Dalam ungkapan yang masyhur dinisbatkan kepadanya, ia menggambarkan keinginannya untuk beribadah kepada Allah bukan karena mengharap balasan, melainkan karena kecintaan kepada-Nya. Di situlah letak kemuliaan seorang pencinta Tuhan.
Ia tidak lagi bertanya, “Apa yang akan aku dapatkan dari hidup ini?” tetapi, “Apa yang dapat aku lakukan agar Allah mencintaiku?”
Ia tidak menjadikan dunia sebagai tujuan, melainkan sebagai ladang perjalanan menuju-Nya. Harta tidak menjadi pusat hatinya. Kedudukan tidak menjadi kebanggaannya. Pujian manusia tidak menjadi ukuran kemuliaannya. Bahkan kenikmatan akhirat pun tidak menjadi tujuan tertinggi. Yang dikejarnya hanya satu: rida dan cinta Allah SWT.
Al-Ghazali menjelaskan bahwa cinta kepada Allah lahir dari pengenalan terhadap-Nya. Semakin seseorang mengenal keagungan, keindahan, dan kesempurnaan Allah, semakin dalam pula cintanya kepada-Nya. Jalaluddin Rumi kemudian menggambarkan cinta sebagai daya yang menggerakkan manusia kembali kepada sumber hakikatnya. Sementara dalam pemikiran Ibn ‘Arabi, cinta memiliki kedudukan yang sangat mendalam dalam hubungan antara Tuhan dan makhluk-Nya. Mereka seakan mengingatkan kita bahwa hidup ini terlalu singkat apabila hanya dihabiskan untuk mengejar sesuatu yang akan ditinggalkan ketika kematian datang.
Betapa mulianya seseorang yang sejak muda telah memilih menjadikan hidupnya sebagai arena mencari cinta Allah. Hari-harinya diisi dengan ilmu, ibadah, pengabdian, kejujuran, kesabaran, dan amal yang bermanfaat. Ia bekerja bukan sekadar untuk mengumpulkan dunia, tetapi menjadikan pekerjaannya sebagai jalan pengabdian. Ia belajar bukan sekadar untuk mendapatkan gelar, tetapi untuk mendekatkan dirinya kepada kebenaran. Ia berbuat baik bukan untuk dipuji, tetapi karena ingin menjadi hamba yang dicintai Tuhannya.
Inilah asmara robaniy, ketika seluruh hidup berubah menjadi perjalanan menuju Sang Kekasih Sejati.
Orang yang telah menemukan cinta semacam itu tidak berarti kehilangan dunia. Ia tetap berjalan di dalam dunia, tetapi dunia tidak lagi menguasai hatinya. Ia memiliki sesuatu tanpa diperbudak oleh sesuatu. Ia menikmati kehidupan tanpa melupakan Pemilik kehidupan. Ia bersedih ketika kehilangan, tetapi tidak kehilangan Allah. Ia memperoleh sesuatu, tetapi tidak lupa bersyukur kepada-Nya.
Dan mungkin, inilah bentuk cinta yang paling tinggi, yaitu ketika seorang manusia tidak lagi menjadikan hidup sebagai perjalanan untuk menemukan sebanyak-banyaknya apa yang ia inginkan, tetapi sebagai perjalanan untuk menjadi seseorang yang layak dicintai oleh Allah SWT.
Dunia terlalu banyak membual soal cinta, maka bolehlah dikatakan bahwa jika ingin mengejar sesuatu dalam hidup ini, kejarlah cinta yang tidak akan pernah berakhir. Jika ingin bersungguh-sungguh terhadap sesuatu, bersungguh-sungguhlah dalam mencari rida-Nya. Jika ingin menjadi seseorang yang istimewa, jadilah hamba yang dekat dengan-Nya.
Sebab segala sesuatu yang kita kejar di dunia pada akhirnya akan meninggalkan kita. Tetapi Allah SWT tidak pernah meninggalkan hamba yang berjalan menuju-Nya.
Bersenandunglah dengan cinta, tetapi jangan berhenti pada rasa. Bersimpuhlah dalam asmara robaniy, hingga seluruh langkah, air mata, perjuangan, kesunyian, dan pengabdian menjadi bahasa cinta seorang hamba kepada Rabb-nya.
Karena sesungguhnya hidup yang paling indah bukanlah hidup yang berhasil mendapatkan seluruh yang diinginkan, melainkan hidup yang akhirnya sampai kepada cinta yang sejak awal menjadi tujuan penciptaannya, yaitu cinta kepada Allah SWT.
Penulis; Abu Fattah At-Thubaniy




